Senin, 29 Juli 2013

VIVAnews - BlackBerry Messenger (BBM) telah diumumkan akan hadir di platform Android dan iOS. Rencana itu akan menyemarakkan peta persaingan pesan instan, di mana BBM mau tidak mau akan berhadapan dengan WhatsApp, LINE, KakaoTalk, WeChat, Viber, dan semacamnya.

Meski ditunggu-tunggu, sejumlah pengguna BlackBerry berpikir, kehadiran BBM di Android dan iOS malah buruk. Mengapa?

Mereka berpendapat, hadirnya BBM di kedua platform itu malah dapat merugikan pendapatan BlackBerry. Beberapa analis pun berpikir demikian.

"Jika seseorang bisa mendapatkan BBM di Android dan iPhone, jadi manfaat apa yang didapat jika memakai ponsel Blackberry?" tanya salah satu pembaca.

Ditambah lagi, saat ini, fakta menunjukkan banyak pemilik BlackBerry yang juga menggunakan WhatsApp. Sehingga, pengguna BBM tidak punya kebutuhan untuk mencoba BBM di Android maupun iPhone.

Namun, pembaca lain menyambut baik langkah BlackBerry. Fitur BBM di platform lain akan lebih baik karena layanan BBM menggunakan PIN sebagai identitas, bukan nomor ponsel, seperti LINE, WhatsApp, atau lainnya. "Tentu lebih privat. Dan, selain itu, BBM jauh lebih cepat update," katanya.

Sampai saat ini, belum jelas kapan BBM akan "mendarat" di perangkat Android dan iOS, dan berapa biaya yang akan dikenakan untuk berlangganan BBM.

Berita palsu

Pengguna BlackBerry sempat dibuat sumringah ketika beredar kabar bahwa aplikasi BBM akan hadir untuk perangkat Android dan Apple iOS pada Juni 2013.

Kabar ini disebar oleh T-Mobile Inggris melalui akun Twitter-nya, sekitar bulan Mei silam.

Namun, berdasarkan sumber yang mengetahui rencana peluncuran aplikasi BBM di iOS dan Android mengatakan, kabar itu tidak benar.

"Semua berita yang mengatakan aplikasi BBM mulai dirilis pada 27 Juni 2013 adalah palsu, pembohongan," kata sumber dari BlackBerry,  sepert diberitakan VIVAnews pada Juni silam.
Crackberry
Z10 berbasis Android
KOMPAS.com - Banyak yang beranggapan bahwa China adalah gudang barang tiruan. Tampaknya, anggapan tersebut benar adanya setelah melihat begitu banyak produk tiruan dari perangkat ponsel pintar terbaru.

Salah satu produk yang tak luput dicontek desainnya adalah BlackBerry Z10. Tiruan dari perangkat komersil BlackBerry 10 pertama ini sempat muncul dan ditawarkan di situs lelang eBay.


Uniknya, perangkat ini tidak memakai sistem operasi BlackBerry 10, melainkan Android 4.0 Ice Cream Sandwich.

Spesifikasinya pun, seperti dikutip dari Crackberry, Jumat (26/7/2013), tidak setinggi BlackBerry Z10. Ia dipersenjatai dengan prosesor 1 GHz, RAM 256 MB, kamera 2 megapiksel, dan bentang layar 3,5 inci resolusi 800 x 480 piksel. Produk abal-abal ini juga mendukung penggunaan dua kartu SIM, jaringan quad-band GSM 850/900/1800/1900 MHz, ditambah WiFi.

Spesifikasi ini sangat berbeda jauh dari Z10 asli, di mana produk tersebut menggunakan prosesor Snapdragon MSM8960 1,5 GHz dual-core, RAM 2 GB, kamera 8 megapiksel, dan layar 4,2 inci beresolusi 768 x 1280 piksel.

Harga yang ditawar untuk produk China tersebut pun tidak terlalu tinggi. Terakhir, produk tersebut baru menyentuh harga 56 dollar AS atau sekitar Rp 560 ribu. Saat ini, Z10 Android tersebut tampaknya sudah laku terjual karena sudah tidak lagi muncul di eBay.

Sebelumnya, telah beredar berbagai produk tiruan dari ponsel pintar model terbaru. Salah satunya adalah HDC One. Produk buatan perusahaan asal China bernama HDC ini merupakan perangkat tiruan dari HTC One.

Selain itu, HDC juga pernah meniru desain dari Samsung Galaxy S3 dan dua smartphone HTC lainnya, HTC One S dan HTC One X.

Hapsoro, Guru "Pemulung" dari Sungai Ciliwung

Hapsoro, gambar diambil dari sini

Sebagai aktivis lingkungan, Hapsoro banyak mengadvokasi persoalan pembalakan liar di Pulau Kalimantan. Ia masuk-keluar hutan dan berkampanye demi penyelamatan hutan. Namun, ketika melepas semua itu dan hanya memaknai diri sebagai orang Bogor, Hapsoro memilih menjadi "pemulung" di Sungai Ciliwung.

Bukan sembarang "pemulung", sejak 2009 Hapsoro bersama rekan-rekannya menggulirkan Komunitas Peduli Ciliwung Bogor. Rutin sekali dalam sepekan mereka memulung sampah di tepian Sungai Ciliwung. Mereka punya 11 titik favorit yang terbanyak sampahnya di sepenggal Sungai Ciliwung di Kota Bogor, mulai Katulampa hingga Cilebut.

Pesertanya masyarakat awam, dari karyawan kantor, guru, hingga pelajar. Mereka menyebarkan informasi titik memulung melalui pesan singkat berantai yang dimulai oleh Hapsoro. Maklum komunitas ini tida mengikat keanggotaan, siapa saja boleh datang dan pergi. 

Kegiatan itu murni swadaya Hapsoro dan rekan-rekan tanpa dukungan lembaga tertentu. Hapsoro yang kerap "berjuang" untuk pelestarian lingkungan di luar Bogor merasa perlu berbuat sesuatu bagi Bogor, tempat tinggalnya. Persoalan lingkungan yang menonjol di Bogor adalah Sungai Ciliwung yang kerap dijadikan "tempat sampah". "Sekali memulung, sampah yang terkumpul bisa sampai satu mobil bak terbuka. Awalnya kami urunan menyewa mobil Rp100.000, tetapi belakangan Pemerintah Kota Bogor membantu menyediakan mobil sampah. Mungkin mereka malu", tuturnya.

Setiap Sabtu
Acara memulung bersama itu dilaksanakan setiap Sabtu. Bergantian dengan dua kegiatan lain, yakni menyusuri tepi Ciliwung dan memulung benih pohon beringin serta pekan berikutnya menanam benih yang dikumpulkan dari hutan sekitar Kecamatan Dramaga di tepian Sungai Ciliwung.

Harapannya, pohon beringin yang berakar kuat itu bisa membantu menyerap air hujan agar tidak erosi, sekaligus memperkuat daerah sempadan sungai agar tak mudah longsor. Selama dua tahun terakhir sudah ratusan pohon mereka tanam di bantaran Ciliwung.

Sekali dalam setahun mereka menggelar lomba memulung per kelurahan di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung dan tahun ini akan menginjak tahun ketiga. Masyarakat berlomba berupaya menjadi yang terbanyak mengumpulkan sampah rumah tangga di Sungai Ciliwung. Juara pertama loba mendapat hadiah Rp5 juta. Uang "pembinaan" bagi pemenang merupakan sisa hasil penjualan sampah plastik dari kegiatan memulung rutin setiap pekan dan donasi perorangan.

Hampir tiga tahun memulung, tentu ada suka dan duka yang dirasakan Hapsoro dan teman-teman. Hal tersering yang mereka alami adalah kaki luka kena pecahan kaca atau paku saat memburu sampah di Ciliwung. Yang membuat mereka sampai mengelus dada, ketika sedang memungut sampah, tiba-tiba orang yang tinggal di bantaran sungai tanpa melihat kegiatan itu dengan entengnya membuang sampah ke sungai. Tak jarang sampah tersebut bahkan mengenai kepala mereka. Duh...

Minus kepedulian
Jumlah peserta atau sukarelawan yang terlibat dalam kegiatan memulung itu tak tentu. Pernah hanya bisa dihitung dengan jari, kadang  belasan, pernah pula sampai 80 orang. Dia mengaku sengaja mengajak mereka memulung sampah agar menjadi lebih peduli terhadap Ciliwung. 

Ciliwung kerap menjadi persoalan saat banjir melanda Jakarta. Daerah hulu Bogor akan dipersalahkan oleh orang-orang di hilir, seperti Jakarta. Kerusakan Ciliwung sudah terbilang parah, dengan sampah di mana-mana, airnya keruh,, terutama di daerah tengah dan hilir sungai.

Masyarakat membuang sampah karena masih merasa Ciliwung sebagai tempat sampah yang efisien. Orang tinggal melemparnya, lalu sampah hanyut, untuk kemudian menumpuk atau tersangkut di daerah lain. Padahal masyarakat juga memerlukan Ciliwung. Mereka memanfaatkan air dari Sungai Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari. Pada masa lalu, Ciliwung dekat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Leonard Blussem sejarahwan Belanda, dalam buku Persekutuan Aneh mencatat, Batavia (Jakarta) pernah dikenal sebagai kota yang indah dan bersih pada 100 tahun pertama usianya. Namun sejarahwan mencatat pula, akibat erupsi Gunung Salak, sanitasi kota sama sekali tidak baik karena aliran Sungai Ciliwung tersumbat dan air tercemar. Kini, bukan erupsi Gunung Salak yang menyumbat dan mengotori Sungai Ciliwung, melainkan orang-orang yang tinggal di sekitar sungai itu.

"Kegiatan memulung ini juga untuk kembali mengingatkan mereka agar peduli terhadap Ciliwung,. Kami sebetulnya lebih berharap muncul kesadaran masyarakat", katanya. Adakah hasilnya? Bagi Hapsoro, apa yang dia dan rekan-rekannya lakukan hanya setitik upaya untuk menjaga Ciliwung. Dimulai dari membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap Ciliwung.

Setidaknya, menurut Hapsoro, kini orang-orang mulai memiliki rasa malu untuk membuang sampah sembarangan di sungai ketika mereka "bekerja" mengurangi sampah. Untuk mendorong agar kegiatan ini menjadi gerakan moral warga, seperti harapan Hapsoro, masih jauh dari kenyataan. Namun, bukankah untuk memulai sebuah perjalanan perlu satu langkah kecil? Bagi Hapsoro dan teman-teman, langah kecil itu dimaknai dengan memulung sampah di Sungai Cilwung...

GOGREEN

Membakar sampah, baik kah?

Urusan kita dengan sampah tidak berhenti saat kita membuang sampah saja. Membuang sampah di tempatnya memang baik, tetapi masih ada hal-hal yang kita perlu perhatikan setelah membuang sampah.



Beberapa dari kita memilih untuk membakar sampah yang telah terkumpul. Apakah pilihan untuk membakar sampah merupakan pilihan yang baik? Ternyata membakar sampah malah menimbulkan masalah baru lagi, khususnya bagi kesehatan kita.

Saat membakar sampah dalam tumpukan, tidak terjadi proses pembakaran yang baik. Pembakaran yang baik adalah dengan membutuhkan Oksigen (O2) yang cukup. Berbeda saat membakar tumpukan sampah, mungkin bagian luar tumpukan cukup mendapatkan Oksigen sehingga menghasilkan CO2, tapi di dalam tumpukkan sampah akan kekurangan O2 sehingga yang dihasilkan adalah gas Karbon Monoksida (CO).

Lalu kenapa dengan gas Karbon Monoksida?
Gas Karbon Monoksida (CO) merupakan gas yang berbahaya, karena dapat membunuh kita secara massal. Bila kita menghirup gas CO, hemoglobin darah yang seharusnya mengangkat dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh akan terganggu. Dengan begitu, tubuh akan mengalami kekurangan Oksigen, yang dapat berujung kematian.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga berbahaya, lho. Masalah juga muncul dari sampah organik, yang dapat mengakibatkan partikel-partikel yang tak terbakar akan berterbangan, atau menghasilkan reaksi yang menghasilkan hidrokarbon berbahaya. Hidrokarbon berbahaya yang dihasilkan asap pembakaran sampah, termasuk senyawa penyebab kanker yaitu benzopirena, nyatanya mencapai 350 kali lebih besar dari asap rokok. Semakin jauh, kita bisa terjangkit kanker paru-paru, infeksi paru-paru, asma, atau bronkitis.

Belum lagi dengan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah, yang juga dapat merusak atmosfer bumi. Gas tersebut adalah senyawa chlor, yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Pembakaran bahan sintetis yang mengandung nitrogen, seperti nilon, busa poliuretan yang ada pada sofa atau karpet busa, juga membahayakan karena dapat menghasilkan gas HCN yang berbahaya.

Membuang sampah di tempatnya memang belum cukup. Proses dalam menghancurkan sampah nyatanya masih jauh lebih ribet lagi. Sehingga pada dasarnya, kita pun perlu mengurangi sampah, terutama sampah-sampah yang susah mengurai. Mengurangi konsumsi, memaksimalkan produk yang bisa digunakan berkali-kali daripada yang sekali pakai.